
Malam itu, pembayaran penjualan sawah almarhum Abah telah lunas terbayar, kami bertiga diantara 6 saudara sepakat membagi rata setelah semua utang-utang terbayar lunas, karena alasan kuat kami jual karena utang almarhum harus segera dibayarkan. semua sudah dibagi rata dengan nominal yang sama, hati tenang bercampur sedih, karena tidak ada keributan dan perpecahan setelah dibagi warisan dari almarhum abah, teringat salah satu nasihat Guru waktu SMP beliau adalah Bapak Achmad Budiman, S.Pd seorang Guru bahasa Inggris dan juga Pembina OSIS pernah mengatakan " Amal yang tidak pernah putus adalah ilmu yang bermanfaat" seketika itu aku terpikirkan jika memang demikian, uang yang tadi menjadi bagianku akan ku pakai untuk lanjut kuliah, dalam hati berat karena berbagai pertimbangan salah satunya adalah resiko untuk istri dan si Bontot Tyo yang beranjak ikut KOBER, dalam benak hati juga merasa berat ketika harus berdiskusi dengan istri, namun hal itu tidak menyurutkan tekad itu, dimalam yang sama, aku dan istri berdiskusi dari mulai pelunasan sampai hasil pembagian sampai menceritakan tekad untuk lanjut kuliah karena berbagai pertimbangan yang salah satunya ingin memperbaiki taraf hidup melalui pendidikan karena aku masih ingat salah satu motivasi juga dari Guru SMA Bapak Almarhum Solider Manalu, S.Pd Guru sejarah beliau berkata " Investasi yang tiada akhir adalah pendidikan terutama Guru, modal berapapun akan terbayarkan" alhamdulillah istripun mengerti dan betul-betul mensupport tekad dan kemauanku, karena dia berpikir kedepan harus ada perubahan terlebih saat ini aku (Suami) tengah menjadi seorang Pengajar Praktik Guru Penggerak dengan membina Guru-Guru hebat, ditambah menjadi panutan di Desa dengan terpilihnya sebagai Sekretaris BPD dan juga akan menjalani tugas sebagai PPS (Panitia Pemungutan Suara) yang ada ditingkat Desa dalam Pemilu 2024, hal itu juga yang menjadi pertimbangan istriku untuk mengizinkan aku lanjut studi, tak ada perdebebatan dan juga argumen bahasa tubuh apapun akhirnya aku sepakat untuk mendaftar kuliah Pasca Sarjana di IKIP Siliwangi Bandung, karena alasan biaya terjangkau, kualitas bagus dan juga aku alumnus IKIP Siliwangi tahun 2013.
Moment apapun pasti aku selalu mohon doa restu dari Emih (Ibu) karena bukan teori lagi doa seorang Ibu adalah senjata paling ampuh dan juga jalan meuju kemudahan mengejar keinginan, hari itu aku minta izin untuk memakai uang hasil penjualan sawah untuk dipakai lanjut kuliah, alhamdulillah emih mengizinkan dan akupun langsung sungkem serta mencuci kaki emih, agar kedepan aku diberi kemudahan dan juga kelancaran, terpancar air mata emih berlinang seketika teringat almarhum abah, karena aku berkata ilmu yang nanti aku dapatkan dan aku amalkan akan menjadi amalan yang tidak pernah putus untuk abah, tak terasa air mataku pun menetes dan tekad ini semakin yakin dan kuat akan mencapai cita-cita itu menjadi seorang Magister.
Tepat pukul 04.00 WIB (Dini hari) si Putih Kuda Besi (Motor Matic) sudah kupanaskan,
tak lupa nasi timbel yang terbungkus daun pisang yang sudah disiapkan istriku turut menjadi bawaanku untuk sarapan ya itung-itung irit pengeluaran, pamit dan cium tangan istriku mengantarkanku ke pintu gerbang, akupun langsung berangkat menuju kota kembang dengan durasi 3 Jam 15 Menit. banyak hal yang dirasa dalam perjalanan menuju kampus, mulai dari ngantuk, dingin dan juga keram pada tangan turut kurasakan karena 10 tahun yang lalu terakhir aku ke kampus, sudah jelas akan butuh adaptasi kembali, 10 tahun cukup banyak perubahan rute hingga aku salah jalan untuk menuju gang kampus al hasil 30 menit tersesat, setalah bertanya alhamdulillah sampai juga aku di kampus tercinta, tapi sayangnya aku datang tidak banyak aktifitas akademik kampus, karena dulu hari sabtu biasa dipakai untuk perkuliahan kelas karyawan, karena mungkin aku baru kembali jadi aku tidak tahu civitas akademik saat ini. akupun langsung menuju ke ruangan pendaftaran mahasiswa baru, setelah aku bertanya pada seseorang yang ada diruangan (Lupa Nama) aku bertanya untuk pendaftaran mahasiswa S2 kapan, dia menjawab sudah ditutup, sontak hati ini sudah mulai putus asa, karena dibuka lagi bulan maret tahun depan, sementara aku ke kampus saat itu bulan November, hal ini pasti akan berpengaruh pada uang yang tengah kusimpan saat ini, suatu hari pasti akan terpakai, namun ada harapan kecil ketika beliau memberikan no kontak prodi S2 untuk menghubungi no kontak tersebut, ia adalah Pak Iman Santoso, M.Hum (Sekretaris Prodi S2 PBS Indonesia) saat ini, ketika aku hubungi sampai ke 4 kali namun tidak ada jawaban, semakin hati ini surut, ketika dibagian pendaftaran harus ,menunggu sampai bulan maret 2022, saat itu aku pulang karena tidak ada lagi tujuan, dosen yang kenalpun tidak ada, aku menuju ke Masjid Kampus untuk menunaikan sholat Dzuhur, setelah sholat Dzuhur alhamdulillah Pak Iman membalas telepon dariku melalui Whatssapp seketika aku berbincang dan memperkenalkan diri dan juga menjelaskan maksud dan tujuanku, dengan sedikit nada hampir tidak ada kesempatan untuk mendaftar karena waktunya tidak tepat pak Imam sampaikan, namun beliau mencoba akan berdiskusi dengan ketua Prodi saat itu Ibu Hj. Dr. R. Ika Mustika, M.Pd, akupun menjelaskan bahwa alumni tahun 2013 kelas karyawan Subang, Pak Iman pun mengerti dan dipersilahkan untuk menunggu jawaban dari ketua prodi.
Perjalanan pulang cukup berat, karena tidak ada hasil yang pasti, namun aku harus pulang sebelum pukul. 15.00 WIB, setelah menerima telepon Pak Iman, aku langsung pulang dengan membelah jalur cimahi, Cihanjuang, Parongpong, Lembang, Subang dan berakhir di Pusakanagara Pantura Subang, sesampainya dirumah aku lihat Hp ternyata Pak Iman telepon hingga 5 kali, namu aku tak menjawab karena sedang dalam perjalanan posisi hp pun berada pada tas kecil, aku telepon balik dan akhirnya Pak Iman memberikan kabar gembira bahwa bisa mendaftar saat ini, namun tetap harus mengikuti seleksi dan wawancara, akupun menjawab siap, lamgsung terjadwal 3 hari yang akan datang untuk seleksi dan Wawancara, setelah membayar uang pendaftaran aku langsung ikut seleksi dengan beberapa mahasiswa S2 yang sama menyusul sepertiku, disini aku mendapat teman bernama Pak Ukon dari Tanggerang dan Pak Didin dari Sukabumi, namun pak Ukon tidak lanjut sampai perkuliahan, sementara pak Didin tetap bertahan sampai perkuliahan, beres seleksi kamipun mengikuti wawancara dengan ketua Prodi dan dinyatakan Diterima, perasaan ini sangat senang tak terhingga karena bisa megikuti perkuliahan walaupun tertinggal 7 pertemuan, saran dari ketua prodi agar minta tugas kepada Dosen yang mengampu mata kuliah agar sama dengan rekan yang lain, saran itu langsung kujalani.
Pertemuan pertama dengan Pak Iman terjadi ketika aku melunasi keuangan pertama semester 1, banyak cerita ketika aku kuliah dulu, satu kata alhamdulillah bisa diterima pada moment yang tepat ketika ada uang yang sudah ada peruntukannya. tak lama akupun berkenalan dengan rekan 1 kelas yang berjumlah 18 Orang, dengan karakter yang unik, punya ciri khas dan juga bisa menerima ditengah perjalanan, tentunya aku sudah nyaman dengan teman baruku di kelas Pasca Sarjana PBS Indonesia Angkatan 2021.
Pada jilid 1 ini aku belajar bahwa benar kekuatan Doa seorang Ibu itu betul-betul ampuh, yang tadinya aku harus ikut mendaftar bulan maret 2022 tahun depan, tapi bisa dibulan November 2021, ini suatu yang menggembirakan, dengan statusku sebagai Mahasiswa Pasca Sarjana IKIP Siliwangi Bandung, denga Orang -orang hebat dibelakangku terutama istriku tercinta yang betul-betul mensupport, hal ini terlihat ketika dia tidak banyak tuntutan apapun. Itulah sepenggal ceritaku yang menjadi saksi dalam memperoleh status sebagai Mahasiswa Pasca Sarjana IKIP Siliwangi Bandung Angkatan 2021.